Pemahaman Orang Tua Terkait Nutrisi Jadi Kunci Cegah Stunting pada Anak

Ebadi, JAKARTA – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya pemahaman orang tua dan keluarga tentang gizi agar tumbuh kembang anak tidak terganggu akibat gizi buruk kronis pada anak atau stunting. “Pencegahan sembelit dimulai dari orang tua dan keluarga yang memahami pentingnya gizi, sehingga anaknya bisa mengonsumsi makanan bergizi, sehingga tidak mengalami stunting,” kata Budi, dalam edukasi gizi virtual di Batavia, Selasa (6.II/ ). 2024).

Budi mengatakan, terdapat empat dari sepuluh anak usia 6 hingga 24 bulan di Indonesia yang tidak mendapatkan Makanan Tambahan Air Susu Ibu (MPASI) sesuai kebutuhan gizi dan pemerataan gizi.

Menurutnya, hal tersebut meningkatkan risiko stroke pada anak usia dua tahun. Oleh karena itu, pendidikan menjadi salah satu kunci untuk mengurangi risiko kekerasan terhadap anak di Indonesia.

Edukasi dan pendampingan harus diperkuat melalui berbagai kolaborasi multipihak,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wahidin mengatakan, pemerintah berupaya menurunkan angka pengangguran hingga 14 persen pada tahun 2024.

“Ini merupakan upaya kolaborasi Pentahelix, bukan hanya dari pemerintah. Tujuan kita bersama adalah menurunkan laju deforestasi tidak lebih dari 14 persen pada tahun ini,” ujarnya.

Ia mengatakan, BKKBN berupaya menurunkan perkiraan tersebut melalui tiga prioritas utama, antara lain memulai masa depan pasangan dan pendatang baru, membantu ibu hamil, dan gizi seimbang pada 1.000 hari pertama kehidupan. Wahidin juga menjelaskan, pada tahap awal pranikah, calon pengantin harus dipastikan dalam kondisi benar-benar sehat jasmani dan rohani.

“Tiga bulan menjelang pernikahan, tenangkan diri dan pastikan dalam keadaan sehat, tidak anemia atau apa pun, sehingga saat melahirkan anak laki-laki, kondisinya sehat,” ujarnya.

Oleh karena itu, bantulah ibu hamil untuk mendapatkan asupan nutrisi yang baik, cukup dan bervariasi. Di sisi lain, para orang tua dihimbau untuk meningkatkan pengetahuannya tentang gizi sehingga dapat memperoleh makanan bergizi cukup dengan harga terjangkau.

Selain itu, 100 hari pertama kehidupan anak merupakan masa emas pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun otak. Sejak awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun, orang tua diharapkan memberikan asupan makanan dengan gizi seimbang.

“Gizi tersuspensi, makanan bervariasi. Semua itu harus tepat sasaran dan tidak berlebihan, agar tidak terhindar dari kebodohan dan obesitas,” kata Wahidin.

Multifaktor Penyebab Stunting, Masalah Gizi Remaja Putri Hingga Ibu Hamil

Ebadi, Jakarta – Ketua Kelompok Kerja Standar Kecukupan Gizi Mahmoud Fauzi mengatakan ada banyak faktor yang menyebabkan penurunan tersebut. Penyebabnya antara lain ada tidaknya masalah gizi pada remaja putri, gizi buruk pada ibu hamil, dan buruknya pemberian makanan pada bayi. Ada juga faktor-faktor seperti penyakit menular pada masa kanak-kanak, praktik pengasuhan anak, dan sosial ekonomi keluarga. Namun melihat dominasi anak usia 6 hingga 23 bulan, menurut Fauci, salah satu pendorong langsung percepatan pertumbuhan adalah pemberian ASI tambahan (MPASI), yang kekurangan nutrisi dan rendah protein hewani. “Hal ini sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pemahaman ibu terhadap kesehatan dan gizi anak, serta faktor lingkungan setempat,” kata Fauci pada tahun 2024. 15 Januari dalam siaran pers yang diperoleh Tempo.

Hal serupa juga ditegaskan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), yang mengepalai program percepatan pengurangan hambatan. Masyarakat sering mengasosiasikan hal ini dengan kemiskinan, karena kemiskinan merupakan salah satu penyebab buruknya sanitasi dan kurangnya air minum. “Namun penelitian menunjukkan bahwa pola asuh sebuah keluargalah yang sangat menentukannya,” kata Direktur Ketahanan Pemuda BKKBN Eddie Setiawan.

Model pengasuhan anak, lanjut Edi, akan diterapkan dengan memenuhi kebutuhan gizi ibu sejak awal kehamilan, kemudian dioptimalkan dengan memberikan ASI eksklusif dan MPASI bergizi tinggi protein hewani dan aman. “Semua kembali pada pola asuh orang tua, karena pola asuh orang tua menentukan kebiasaan makan,” kata Eady.

Berbicara mengenai makanan tentu akan melibatkan faktor gizi. Fauci mengatakan, hal pertama yang harus diperhatikan adalah apakah anak mengonsumsi makanan bergizi bervariasi. Secara umum, kurangnya pangan bergizi khususnya protein hewani dan permasalahan infeksi yang dialami anak berdampak besar pada permasalahan seperti gizi buruk dan tumbuh kembang. Apakah konsumsi gula menyebabkan pertumbuhan?

Beberapa waktu lalu, penyakit gagap diduga disebabkan oleh pemberian susu kental manis (SCM) dan makanan tinggi gula. “Untuk minuman manis, untuk anak di bawah 2 tahun, asupan gula dalam bentuk gula tambahan dibatasi kurang dari 5 persen dari total kalori, yaitu: 50-60 kalori.” Oleh karena itu, menetapkan pemberhentian adalah salah. asupan gula yang tinggi,” kata Fauci.

Eddie juga berpikir begitu. Menurutnya, belum ada yang menduga gula menjadi penyebab gagap. “Selama nutrisinya cukup, tidak ada masalah. “Dampak dari konsumsi gula yang berlebihan adalah obesitas pada masa kanak-kanak dan remaja,” ujarnya.

Eady juga mengingatkan bahwa mengonsumsi makanan manis adalah bagian dari menjadi orang tua. Jika Anda mengonsumsi makanan sehat, kebiasaan makan Anda akan lebih terdukung. Oleh karena itu pola asuh orang tua, termasuk pemberian makan, menjadi penentu apakah seorang anak mengalami stunting atau tidak, ujarnya.

Memasukkan protein hewani ke dalam menu makanan anak juga penting sebagai upaya pencegahan stunting. Dokter spesialis anak Lucia Nouli Simbolon menjelaskan masih banyak masyarakat yang belum berani memberikan makanan pendamping ASI berupa protein hewani pada ASI. “Orang tua selalu bertanya ketika anak mulai mengonsumsi MPAC, makanan pertama yang harus dimakan adalah sup atau sayur? Mereka mengira makanan pertama anak harus buah atau sayur, bukan protein hewani,” kata dokter spesialis anak tersebut.

Padahal, lanjut Lucia, anak membutuhkan zat gizi makro dan mikro. Makro karbohidrat, lemak dan protein. “Untuk karbohidrat, orang Indonesia suka nasi dan makanan manis. “Karbohidratnya sebenarnya bisa diganti dengan ubi atau ubi ungu,” ujarnya.

Protein hewani bisa didapat dari ikan karena tinggi DHA yang penting untuk otak. Namun untuk membentuk otot, Lucia menyebut daging merah dan unggas sebagai sumbernya. Sedangkan sumber lemaknya tidak hanya mentega atau keju saja, tapi juga santan.

Menurut Lucia, penting bagi orang tua untuk mengoptimalkan konsumsi protein hewani dalam pola makannya, dimana 20 persen protein hewani dan 30 persen lemak sebaiknya berasal dari sumber hewani. “Perkirakan porsi protein hewani anak sekitar 20-25 gram. Timbang terlebih dahulu agar Anda tahu berapa banyak ikan lele yang dibutuhkan untuk mendapatkan, katakanlah, 25 gram protein hewani. “Protein nabati hanyalah bonus,” sarannya.

Penting juga untuk menyediakan protein hewani sesuai dengan pedoman MPASI baru yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam pernyataannya, Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan untuk tetap memberikan ASI hingga usia 2 tahun. Bayi yang tidak mendapat ASI antara usia 6 dan 11 bulan dapat diberikan susu formula atau susu hewani. Susu yang diberikan pada anak usia 12-23 bulan yang tidak diberi ASI sebaiknya merupakan susu hewani. Produk susu, termasuk susu hewani, merupakan bagian dari pola makan bervariasi yang berkontribusi terhadap kecukupan gizi, kata pernyataan itu. Rencanakan kehamilan Anda untuk menghindari penambahan berat badan.

Penting juga untuk mencegah pertumbuhan. Fauci mengatakan ada 11 intervensi khusus untuk mencegah pertumbuhan selama kehamilan, sebelum dan sesudah kelahiran. “Bahkan ketika dia masih kecil, intervensinya dimulai dengan tablet suplemen darah (TTD) untuk mencegah anemia,” ujarnya.

Remaja dengan anemia pasti berisiko mengalami anemia saat hamil jika tidak ditangani. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor penyebab terhentinya kehamilan. Untuk itu, menurut Lucia, perencanaan kehamilan juga menjadi faktor penting dalam mencegah pertumbuhan.

“Karena ibu akan memantau kehamilannya secara ketat di puskesmas. Setelah melahirkan, ibu akan memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan melanjutkan pemberian ASI hingga 2 tahun. Kemudian dilanjutkan dengan MPASI yang tinggi protein hewani, ujarnya.

BKKBN memberikan intervensi dini bagi calon pengantin melalui program Electronic Preparation for Marriage and Pregnant (LCIM). Menurut Edi, itu adalah aplikasi dan website yang dirancang untuk memeriksa status kesehatan calon pengantin. Jika cocok akan dikeluarkan surat keterangan kesiapan menikah, siap hamil.

Apakah ini berarti calon pengantin yang kondisi kesehatannya tidak baik tidak bisa menikah? “Masih bisa menikah, tapi dalam pengawasan tim pendukung keluarga. Semoga saja dia tidak hamil paling lama 3 bulan sebelum kesehatannya membaik. “Mereka juga diberitahu tentang risiko jika tetap hamil, seperti anemia dan melahirkan bayi yang anemia,” ujarnya.

Selain itu, BKKBN juga memiliki tim dukungan keluarga di setiap desa. Tim ini terdiri dari bidan desa atau tenaga kesehatan, kader BKKBN, dan kader PKK. Tugasnya adalah melindungi dan mendampingi keluarga yang anak-anaknya lebih lambat atau berisiko kedinginan setelah DE.

Sedangkan Dapur Sehat Mengatasi Stunting (DASAT) merupakan program intervensi gizi yang dijalankan oleh BKKBN. Idenya adalah untuk menghidupkan kembali sumber makanan bergizi di wilayah tersebut. Misalnya, di daerah penghasil talas, hidangan bergizi diolah dengan bahan utama talas yang dicampur dengan ikan, telur, atau ayam. “Dijalankan oleh Kampoeng KB dan membagikan makanan kepada anak-anak kecil atau mereka yang berisiko mengalami stunting,” ujarnya.

Ada pula program ibu asuh atau ibu asuh balita (BAAS) yang komponen utamanya adalah tokoh masyarakat setempat atau seluruh elemen masyarakat. Mereka berdonasi melalui Badan Zakat untuk menyalurkan nutrisi selama 6 bulan guna meningkatkan status gizi anak kecil.

Edi optimis pelaksanaan program yang melibatkan seluruh kementerian tersebut dapat mencapai tujuan penurunan pertumbuhan sebesar 14 persen. Ia mengatakan implementasi dan koordinasi di tingkat akar rumput sangat penting.

Pilihan Redaksi: Jokowi: Anak Orang Kaya Bodoh Juga, Maksudnya Apa?

Berapa anggaran pemerintah dalam beberapa tahun terakhir untuk mengatasi masalah stagnasi di Indonesia? Baca selengkapnya

Gibran Rakabuming Raka buka-bukaan soal rencananya untuk salah satu program andalannya, Program Makan Siang Gratis bersama Prabowo Subianto. Baca selengkapnya

Mohamed Faisal, Ekonom CORE Indonesia, menyarankan agar Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka fokus pada program makan siang gratis. Baca selengkapnya

Tidak hanya tinggi badan Anda yang kurang dari ideal, stunting juga dapat menyebabkan kerusakan otak dan penyakit kronis. Baca selengkapnya

Masih banyak yang menganggap anak kecil dan anak gizi buruk adalah hal yang sama. Meski serupa, wasting dan gizi buruk adalah dua hal yang berbeda. Baca selengkapnya

Pada tahun 2020 ada 149 juta di seluruh dunia. Inilah pengertian gagap dan akibat yang ditimbulkannya. Baca selengkapnya

Saat kita mengonsumsi protein, tubuh memecahnya menjadi asam amino, yang kita serap, hasilkan energi, dan buat berbagai struktur. Baca selengkapnya

Wakil Ketua Panitia Ahli TKN ini mengatakan, pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo-Gibran serius menerapkan skema makan siang dan susu gratis. Baca selengkapnya

Salah satu program yang diusung Prabowo-Gibran saat kampanye adalah pembagian makan siang gratis dan susu gratis kepada anak-anak di seluruh Indonesia. Baca selengkapnya

Ada anggapan bahwa UU Sistem Pendidikan Nasional tidak menjamin hak anak atas gizi yang cukup. Baca selengkapnya

Serupa Tapi Tak Sama, Kenali Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk

Ebadi, Jakarta – Obesitas dan gizi buruk merupakan dua masalah gizi yang umum terjadi pada anak. Secara umum stunting dan gizi buruk dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Anak-anak penyandang disabilitas diperkirakan akan mengalami kesulitan tumbuh dewasa. Namun stunting dan gizi buruk memiliki perbedaan jika dilihat dari berbagai aspek, seperti definisi, penyebab, gejala dan akibat. Lantas, apa bedanya gizi buruk dan gizi buruk? 1. Pengertian stunting dan gizi buruk

Dikutip dari surakarta.go.id, stunting merupakan permasalahan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan makanan bergizi dalam jangka waktu yang lama, yaitu sejak konsepsi hingga 1000 (seribu) hari pertama kelahiran seorang anak. Biasanya masalah ini terjadi karena makanan yang dikonsumsi tidak memenuhi kebutuhan nutrisi. Kekerasan baru akan muncul ketika anak mencapai usia dua tahun.

Saat ini gizi buruk merupakan suatu keadaan dimana anak kekurangan gizi akibat rendahnya konsumsi energi protein dalam makanan sehari-hari, biasanya ditandai dengan berat badan dan tinggi badan yang tidak sesuai dengan usianya (di bawah rata-rata). Penyebab

Biasanya, stunting terjadi karena kurangnya makanan bergizi dalam jangka waktu yang lama, misalnya pada 1.000 hari pertama kehidupan seorang anak. Gagap juga bisa disebabkan oleh faktor lain, seperti bayi yang sering sakit atau bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang tidak ditangani dengan baik.

Berbeda dengan stunting, malnutrisi memerlukan waktu yang lebih singkat. Ada kalanya anak mungkin tumbuh normal, namun ada faktor yang menyebabkan mereka kurang mendapat nutrisi dari makanan yang dimakannya dan mengalami penurunan berat badan. 3. Tanda-tanda stunting dan gizi buruk

Dikutip dari puskesmaskedungreja.cilakakkab.go.id, gejala anak stunting adalah pertumbuhan yang lambat. Kebugaran pada anak akan dipengaruhi oleh gangguan metabolisme, rendahnya imunitas dan ukuran tubuh yang kecil. Hal ini terlihat dari tubuhnya yang pendek dan terlihat lebih kecil dibandingkan teman-teman seusianya.

Selama ini, anak-anak yang kekurangan gizi seringkali mengalami kulit kering, berkurangnya lemak subkutan, dan berkurangnya massa otot. Jika sudah mencapai kadar yang tinggi, kemungkinan perut anak akan mengeluarkan cairan. Anak-anak yang kekurangan gizi lebih mungkin terkena infeksi karena sistem kekebalan tubuh mereka rendah. Selain itu, anak yang kekurangan gizi mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih rendah.

Seiring waktu, gizi buruk dapat menyebabkan anak Anda berhenti tumbuh sebelum waktunya. Selain itu, gizi buruk yang kronis akan menyebabkan anak menjadi kurus (kurus) dan bermasalah. 4. Dampak stunting dan gizi buruk

Jika tidak ditangani dengan cepat, stunting dapat menghambat tumbuh kembang anak. Kekakuan bersifat ireversibel atau permanen, bila anak tidak dapat mencapai tinggi badan normal. Selain itu, anak-anak yang mengalami stunting lebih rentan terhadap penyakit, kehilangan kesempatan belajar, memiliki hasil pendidikan yang lebih buruk, dan tumbuh menjadi kelompok yang kurang beruntung secara ekonomi.

Sedangkan gizi buruk jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang, gangguan jiwa, dehidrasi, hipotermia, anemia, penyakit menular, hingga kematian (dalam kasus yang parah).

Pilihan Editor: Prabowo-Gibran Menangkan versi hitung cepat Bersedia membayar untuk janji makan siang dan susu gratis.

Gibran Rakabuming Raka buka-bukaan soal rencana program makan siang gratis yang menjadi salah satu program andalan dirinya bersama Prabowo Subianto. tahu lebih banyak

INTI perekonomian Indonesia Mohammad Faisal mengusulkan untuk kembali fokus pada program makan siang gratis Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. tahu lebih banyak

Tidak hanya tinggi badan Anda di bawah standar, stunting dapat menyebabkan kerusakan otak dan penyakit kronis. tahu lebih banyak

Pada tahun 2020, tercatat 149 juta anak penyandang disabilitas di seluruh dunia. Inilah yang dimaksud dengan resesi serta manfaat dan risikonya. tahu lebih banyak

Wakil Ketua Dewan Pakar TKN ini mengatakan, pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo-Gibran bertekad melaksanakan program makan siang dan susu. tahu lebih banyak

Salah satu program yang diusung Prabowo-Gibran saat kampanye adalah makan siang gratis dan pengantaran susu gratis kepada anak-anak di seluruh Indonesia. tahu lebih banyak

Undang-undang sistem pendidikan nasional disebut belum memberikan jaminan terhadap hak anak atas kecukupan pangan. tahu lebih banyak

Prabowo-Gibran perlu melihat apakah program makan siang gratis ini layak diprioritaskan dan berpotensi menyasar akar permasalahan. untuk mengetahui lebih lanjut

Kapten timnas AMIN Tom Lembong mengatakan, kabupaten termiskin di Indonesia terletak di Pulau Jawa. untuk mengetahui lebih lanjut

Penting untuk memahami apa itu dan bagaimana mencegahnya. Sebab hal ini berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Berikut penjelasannya. untuk mengetahui lebih lanjut

Beda Penanganan Stunting Vs Gizi Buruk yang Jadi Perdebatan Prabowo-Ganjar

Jakarta –

Kemiskinan dan gizi buruk tiba-tiba terungkap setelah calon presiden nomor urut 3 Ganjar Pranovo menjawab pertanyaan Prabowo Subianto tentang program makan gratis yang diusung pasangan calon nomor urut 3 itu. 2. Sebab, Prabowo meyakini program pangan gratis bisa menyelesaikan masalah pertumbuhan jangka panjang Indonesia.

Ganjar menjawab tidak. Menurutnya, program pangan gratis lebih cocok untuk tumbuh kembang anak gizi buruk. Pada saat yang sama, lebih tepat menangani penundaan sebelum menikah atau hamil sebelum pembuahan.

Menurut Ganjari, pengenceran lebih tepat dilakukan pada pola makan ibu hamil.

“Kalau memberi makan anak-anak malah menghambat penundaan, saya sama sekali tidak setuju karena Anda terlambat,” kata Ganjar dalam debat capres 2024, Minggu (4/2).

“Pak anak terlambat dalam kandungan diobati, ibu diberi makan, kalau gizinya baik, diperiksa rutin, baru diketahui ibu sehat, anak bisa tumbuh besar. Sudah jelas,” lanjutnya.

Apa perbedaan penanganan gizi buruk dan kurang gizi?

Di Indonesia, umur panjang masih menjadi permasalahan kesehatan yang sering ditemui. Menurut situs resmi Kementerian Kesehatan RI, stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan makanan dalam jangka waktu lama, biasanya disebabkan oleh konsumsi makanan yang tidak memenuhi kebutuhan gizi.

Masalah stunting dimulai sejak dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Oleh karena itu, pengobatan retardasi pertumbuhan sebaiknya dimulai sejak bayi masih dalam kandungan.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting, yaitu: 1. Memenuhi kebutuhan nutrisi sejak hamil

Tindakan yang relatif efektif untuk mencegah stunting pada anak adalah dengan selalu memenuhi kebutuhan nutrisi sejak awal kehamilan. Ibu hamil disarankan untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, serta sesuai anjuran dokter.

Selain itu, para ibu sebaiknya rutin memeriksakan kesehatan ginekologinya ke dokter atau bidan. Berikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan

Veronika Scherbaum, ahli gizi di Universitas Hohenheim Jerman, mengatakan ASI memiliki kemampuan mengurangi kemungkinan sembelit pada anak karena kandungan nutrisi mikro dan makronya. Oleh karena itu, para ibu disarankan untuk tetap memberikan ASI eksklusif kepada anaknya selama enam bulan.

Whey dan protein whey pada ASI dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi yang dianggap rentan.3. MPASI sehat dengan ASI

Saat bayi berusia 6 bulan ke atas, ibu sudah bisa memberikan makanan pendamping ASI atau MPASI. Dalam hal ini, pastikan makanan yang Anda pilih dapat memenuhi zat gizi mikro dan zat gizi makro yang dulunya berasal dari ASI agar terhindar dari stunting. Pantau terus tumbuh kembang bayi Anda

Orang tua hendaknya memantau tumbuh kembang anak, terutama tinggi dan berat badan anak. Bawa anak secara rutin ke Posiandu atau klinik khusus anak. Selalu menjaga kebersihan lingkungan

Anak-anak sangat rentan terkena serangan penyakit, apalagi jika lingkungannya kotor. Faktor ini juga secara tidak langsung meningkatkan peluang terjadinya stunting.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Harvard Chan School menemukan bahwa diare adalah penyebab utama ketiga masalah kesehatan ini. Sementara itu, salah satu penyebab diare berasal dari paparan kotoran yang masuk ke dalam tubuh manusia.

Berikutnya: Mengelola gizi buruk

(sao/naf)

Bagaimana Mencegah Gizi Buruk dan Stunting pada Anak? Ini Saran Ahli

Ebadi, JAKARTA – Pakar Gizi Masyarakat dari Dr Tan & Remanlay University, Dr Tan Shot Yen berbagi strategi intervensi dan pencegahan malnutrisi dan stres pada anak. Dalam penjelasan mengenai Juknis Kementerian Kesehatan tentang Pemberian Makanan Pendamping ASI (PMT) berbahan pangan lokal untuk anak dan ibu hamil, Dr. Tan menjelaskan mengenai pedoman tersebut bagi tenaga kesehatan dan orang tua.

Prosedur Intervensi Anak: Di Puskesmas, status gizi anak diverifikasi dan dilakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk mencari tanda bahaya. Jika ada tanda bahaya yang tidak dapat ditangani di klinik, anak tersebut akan dibawa ke rumah sakit. Jika tidak ada tanda bahaya dan anak mengalami malnutrisi atau mengalami memar, maka anak tersebut dapat dirawat di puskesmas. Hal ini meliputi rawat jalan, edukasi, konseling gizi, dan pencegahan penyakit melalui manajemen PMT regional selama empat hingga delapan minggu. Selain itu, stimulasi perkembangan dan pemantauan berat badan mingguan oleh petugas kesehatan. Apabila pertambahan berat badannya baik, anak di atas -2 SD dapat kembali ke posyandu. Jika setelah 14 hari tidak ada penambahan berat badan atau ada tanda bahaya yang tidak dapat ditangani di klinik, maka bayi akan dikirim ke rumah sakit. Mengenai faktor risiko, dr Tan menjelaskan ada 5 faktor risiko yang harus diwaspadai: Saat hamil, anemia, kurang energi, dan tekanan darah rendah pada anggota badan meningkatkan risiko BBLR dan anemia pada anak. Saat lahir: Kegagalan melakukan inisiasi menyusui dini mengakibatkan kegagalan pemberian ASI eksklusif dan risiko tinggi kekurangan ASI. Pemberian ASI eksklusif gagal: bayi sakit, penggunaan susu formula berlebihan, alergi susu dan intoleransi laktosa. MPASI salah: Ukuran dan kualitas MPASI salah. Anak-anak seringkali sakit: mereka terkena penyakit seperti batuk rejan, diare, TBC dan vaksinasi.

Namun, Dr Tan mengatakan semua risiko ini dapat dicegah dengan dukungan keluarga melalui literasi, pendidikan, sanitasi, vaksinasi, dan perencanaan ekonomi.

Untuk mendeteksi dini tanda-tanda gizi buruk dan gizi buruk pada anak, Dr. Tan menyarankan agar para orang tua memanfaatkan posyandu sebagai upaya preventif. Jika berat badan anak Anda turun setelah ditimbang, kunjungilah puskesmas untuk evaluasi dan pengobatan lebih lanjut.

Tan Shot Yen menginformasikan bahwa: orang tua berperan penting dalam pencegahan risiko. Deteksi dini di posyandu dan tindakan segera di puskesmas merupakan cara penting untuk menjaga kesehatan anak dan mencegah dampak jangka panjang dari gizi buruk dan gizi buruk.

Program Keuangan Berkelanjutan, TJSL Bank DKI Fokus Penanganan Stunting

Ebadi, JAKARTA – Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Bank DKI menyalurkan dana sebesar 5,1 miliar

Penyelenggaraan program TJSL Bank DKI merupakan bagian dari program pembiayaan berkelanjutan bagi masyarakat Jakarta.

Baca juga: Bank DKI Ikuti Program Gizi Cukup Jakarta Atasi Instabilitas

Plt Direktur Bank Amirul Wikasono mengatakan, program TJSL tahun ini fokus pada pengelolaan fesyen di Jakarta.

“Dengan berpartisipasi aktif dalam program ini, Bank DKI berkomitmen untuk berkontribusi aktif kepada masyarakat dan mendukung program pencegahan dan pengobatan yang luar biasa di Jakarta,” kata Amirul dalam keterangannya, Senin (5/2).

Baca juga: Di Tengah Naiknya Harga Bahan Pokok, GMGM DKI Jakarta Berbagi Makan Siang

Bank telah bermitra dengan Yayasan Filantropi DKI, RSUD Tanah Abang dan Puskesmas Petojo Selatan dan Kabupaten Petojo Selatan untuk melaksanakan program pencegahan dan penanganan yang mengesankan.

Mereka memberikan konseling tumbuh kembang anak dan pemberian nutrisi tambahan di kawasan Kelurahan Petojo Selatan, Jakarta Pusat.

Partisipasi Bank DKI dalam program ini juga merupakan implementasi rencana aksi keuangan berkelanjutan Bank DKI tahun 2024, ujarnya.

Menurutnya, program promosi dan pemusnahan yang luar biasa ini merupakan bentuk dukungan terhadap program kerja Pemprov DKI terkait pemusnahan ular piton dengan memberikan makanan tambahan.

Amirul berharap program pengobatan yang mengesankan ini dapat mendukung poin 2 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), poin 3 tentang kondisi hidup sehat dan sejahtera, untuk menciptakan kondisi bebas kelaparan.

“Kami percaya bahwa bersama-sama kita dapat membuat perbedaan positif dalam mengatasi masalah kesehatan penting seperti obesitas,” katanya.

Dalam rangkaian program pencegahan dan pengobatan yang mengesankan, Bank DKI juga melakukan kampanye terkait tumbuh kembang anak yang dilakukan oleh petugas kesehatan di RSUD Tanakh Abang.

Bank DKI juga menyalurkan berbagai bahan pangan bergizi berupa telur, susu, kue kering, dan ayam kepada anak-anak terdampak penutupan di wilayah Kecamatan Petojo Selatan, Jakarta Pusat.

Makanan ini akan tersedia untuk 4 bulan ke depan.

Amirul mengatakan, kedepannya Yayasan Filantropi akan terus memantau tumbuh kembang anak-anak yang telah dibantu untuk menghadapi kehebatan.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Bank DKI Ari Rinaldi juga mengatakan pihaknya akan terus menjalankan program pembiayaan berkelanjutan DKI di Jakarta, termasuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan DKI di seluruh wilayah.

Dukungan bank terhadap program pencegahan dan mitigasi DKI mencerminkan nilai keberlanjutan dan tanggung jawab sosial yang telah menjadi bagian integral dari operasional bank, kata Ari. (Mcr4/jpnn)