Studi: Perubahan Iklim Picu Peningkatan Konflik Gajah dan Manusia

Wecome Ebadi di Website Kami!

Ebadi, Jakarta – Risiko konflik antara gajah dan manusia diperkirakan meningkat akibat perubahan iklim dan faktor lingkungan manusia lainnya. Tren yang mengkhawatirkan ini disorot dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences. Studi: Perubahan Iklim Picu Peningkatan Konflik Gajah dan Manusia

Ini adalah studi pertama yang meneliti pengaruh kenaikan suhu terhadap interaksi manusia-gajah. “Konflik manusia-satwa liar dapat berdampak buruk pada manusia dan satwa liar serta dapat menyebabkan kegagalan upaya konservasi,” kata penulis studi tersebut, menurut earth.com.

Studi ini mengkaji bagaimana proyeksi dampak perubahan iklim, perubahan jejak pertanian, dan perubahan kepadatan populasi manusia dapat mempengaruhi distribusi dan intensitas konflik dengan dua spesies besar, terancam punah, dan rentan terhadap konflik: gajah Asia dan Afrika.

“Memahami bagaimana risiko konflik kemungkinan besar akan berubah akibat perubahan iklim seiring dengan berkembangnya pertanian dan populasi manusia dapat memungkinkan para pegiat konservasi dan pengelola satwa liar untuk mengalokasikan sumber daya mitigasi dan konservasi pada spesies dan kawasan konflik,” kata penulis studi tersebut. Ikuti Perjanjian Paris, Pemerintah Akan Tutup Semua TPA Open Dumping pada 2030

Para peneliti telah memetakan risiko konflik manusia-gajah di berbagai habitat gajah. Temuan mereka menunjukkan bahwa ketika suhu terus meningkat dan perambahan manusia terhadap habitat gajah meningkat, kemungkinan terjadinya konflik diperkirakan akan meningkat. Situasi ini merupakan tantangan besar dalam mengelola interaksi manusia-satwa liar yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan kedua spesies.

Mia Guarneri, ahli biologi satwa liar dan peneliti studi tersebut, mengatakan kepada ABC News dalam sebuah wawancara bahwa konflik manusia-gajah memiliki dampak negatif bagi semua pihak yang terlibat. Ia mencontohkan penjarahan tanaman, dimana gajah memakan tanaman, sehingga gajah dibunuh sebagai balas dendam oleh para petani.

Pertanian, khususnya penanaman jagung yang merupakan tanaman favorit gajah, menjadi penyebab banyak konflik serupa. Guarnieri menekankan bahwa dampak buruk dari penjarahan tanaman termasuk hilangnya nyawa gajah dan juga berdampak signifikan terhadap mata pencaharian petani.

Konflik manusia-gajah tidak hanya menimbulkan kerugian fisik dan ekonomi, namun juga melemahkan upaya konservasi lokal. Upaya-upaya ini sangat penting bagi spesies yang mengalami penurunan populasi drastis dalam beberapa dekade terakhir akibat hilangnya habitat dan perdagangan gading.

Menyusul laporan adanya harimau dan gajah melintasi jalan, pihak Taman Nasional Bukit Barisan Selatan berencana memasang kandang perangkap. Baca selengkapnya

Hiu bambu dan tiga hewan liar lainnya yang hidup di Indonesia masuk dalam laporan PBB. Ribuan spesies yang bermigrasi berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Baca selengkapnya

Jumlah karbon organik yang tersimpan di dalam tanah 10 kali lebih banyak dibandingkan total karbon di atmosfer. Mengurangi dampak perubahan iklim. Baca selengkapnya

Negara-negara yang mengalami kekeringan pada tahun lalu, termasuk Indonesia, bisa terkena dampak La Niña. La Nina ditandai dengan suhu yang sejuk

“Perubahan iklim yang mengancam hampir seluruh dunia meningkat dengan kecepatan yang sangat tinggi,” kata Presiden BMKG Duikurita Karnavati. Baca selengkapnya

Meski fenomena El Niño sudah melemah, namun kenaikan suhu permukaan laut masih tinggi dan melampaui rekor dunia. Baca selengkapnya Studi: Perubahan Iklim Picu Peningkatan Konflik Gajah dan Manusia

Selain nasib masyarakat adat dan penerimaan mahasiswa baru Unair, ada pula kajian dampak perubahan iklim terhadap konflik manusia-gajah. Baca selengkapnya

Sekelompok netizen menggalang dukungan untuk mendorong penyelidikan menyeluruh atas kematian Rehman, gajah patroli taman nasional yang diracun di Riau. Baca selengkapnya

Bank Pembangunan Asia telah menyetujui pinjaman sebesar Rp 6,62 miliar untuk meningkatkan sanitasi di Mataram, Pontianak, dan Semarang.

Semasa SMA, Anis Basudan mewawancarai Emil Salim. Kini, mereka bertemu lagi untuk berdiskusi. Ganjar bertemu Emil beberapa hari yang lalu. Baca selengkapnya