Ketua BEM: Jangan Sampai Unpad Ikut Jerat Mahasiswa dengan Pinjol

Sugeng rawuh Ebadi di Portal Ini!

Ebadi, BANDUNG – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unpad meminta pemerintah pusat mengkaji ulang wacana pinjaman mahasiswa. Pasalnya, program tersebut tidak efektif di beberapa negara yang mengikuti kebijakan ini. Ketua BEM: Jangan Sampai Unpad Ikut Jerat Mahasiswa dengan Pinjol

Presiden BEM Unpad Mohammad Haigal Febriansya membahas kemungkinan alternatif kebijakan pinjaman mahasiswa. Namun, ia menemukan bahwa kebijakan ini tidak berjalan efektif di banyak negara. Berebut Bangku Depan di Hari Pertama Sekolah, Sejumlah Siswa Panjat Jendela

“Kalau saya sempat membaca bahwa di Amerika tidak terlalu efektif, justru menimbulkan banyak kredit macet,” kata Hygel, Sabtu (3/2/2024).

Dia mengatakan kebijakan dan prosedur skema tersebut masih belum jelas. Oleh karena itu, dia meminta pemerintah mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut terlebih dahulu.

Karena jika hal ini tidak diatasi, kata Highcall, pinjaman mahasiswa dapat membawa masalah ini ke masa depan. “Baca dulu dan pastikan mekanismenya jelas. Jangan dibiarkan berlarut-larut,” ujarnya.

Haikal menegaskan, Unpad tidak boleh mengikutsertakan mahasiswa dengan kebijakan pinjaman online dan bunga.

Sebelumnya, Pengurus Mahasiswa (PEM) Universitas Padjatjaran (UNBED) mengungkapkan telah mendapat undangan untuk bekerja sama dengan Tanasita, perusahaan pembiayaan atau pinjaman online (Pinjol). Namun mereka menolak bekerja sama karena pinjaman diberikan dengan bunga.

“Sebelumnya di BEM Unpad, ketika ada tawaran dari pinjaman tahun lalu, kami menolak tawaran tersebut karena kami berpikir saat itu dan hingga saat ini bunga tidak menyelesaikan masalah tetapi menambah masalah,” ujar Cathaoirleach BEM Unpad Mohamad. Haikal Febriansya saat dihubungi Kamis (1/2/2024). Ketua BEM: Jangan Sampai Unpad Ikut Jerat Mahasiswa dengan Pinjol

Katanya, pinchol yang dimaksud adalah Tanasita. Mereka menghubungi BEM Unpad dan menawarkan kerjasama skema biaya pendidikan bagi mahasiswa yang kesulitan keuangan.

“Kami menolak pinjaman online dan tidak menggunakannya untuk pelajar. Kami tahu bunga pinjaman online sangat tinggi dan 4-5 persen tidak masuk akal bagi kami,” ujarnya.