Bicarakan Kesehatan Mental Dianggap Tabu, Penyebab Gangguan Jiwa Sering Dikaitkan dengan Mistis

Selamat datang Ebadi di Portal Ini!

Ebadi – Tak bisa dimungkiri, membicarakan kesehatan mental masih dianggap tabu di masyarakat. Ketika seseorang mengalami gangguan atau gangguan jiwa, seringkali penyebabnya dikaitkan dengan hal-hal mistis. Bicarakan Kesehatan Mental Dianggap Tabu, Penyebab Gangguan Jiwa Sering Dikaitkan dengan Mistis

Menurut para psikiater, hal ini terjadi karena stigma terhadap penderita gangguan jiwa selalu negatif. Pakar Madya Epidemiologi Kesehatan Direktorat Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, dr. Edduwar Idul Riyadi, Sp.KJ mengatakan, gangguan jiwa juga ada kaitannya dengan hal-hal mistis dan supranatural. Ilustrasi gangguan jiwa terkait hal mistis. (Stok Shutterstock) Pakar: Sering Terbangun untuk Kencing di Malam Hari Bisa Jadi Gejala Kanker Prostat

“Masalah kesehatan mental sudah lama mendapat stigma. Kesehatan mental dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Stigma yang ditunjukkan datang melalui istilah mental society. Orang dengan gangguan jiwa dikaitkan dengan hal-hal di luar nalar atau supranatural.” Jadi. ada istilahnya kegilaan atau sesuatu di luar pikiran manusia,” kata Dr Edduvars dalam webinar beberapa waktu lalu.

Memiliki keyakinan tersebut membuat seseorang takut untuk membicarakan masalah kesehatan mental. Baginya, ketika mengalami gangguan kejiwaan, sungguh memalukan. Bahkan tak jarang ia mengalami diskriminasi dari masyarakat.

“Masyarakat menjauhi, masyarakat takut dengan hal ini, karena ditolak dan didiskriminasi. Makanya ngomongin gangguan jiwa dianggap memalukan,” lanjut dr Edduvar.

Namun kini banyak masyarakat yang terbuka mengenai kesehatan mental, khususnya generasi muda. Namun, seiring dengan semakin terbukanya generasi muda terhadap kesehatan mental, permasalahan lain pun muncul.

Psikolog sekaligus co-founder @tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, M. Psi mengatakan generasi muda semakin terbuka terhadap kesehatan mental, hal ini juga seiring dengan banyaknya informasi yang tersedia. Namun, tidak semua informasi yang beredar benar adanya.

Sashya menjelaskan, banyak sumber yang tidak mengetahui dari mana asalnya, sehingga generasi muda saat ini lebih cenderung melakukan diagnosis mandiri.

“Tantangan terakhir adalah banyaknya informasi yang dapat dipercaya, karena kondisi self-diagnosis kini mulai muncul,” kata Saskja.

Oleh karena itu, Sashja berpesan, jika muncul gejala gangguan jiwa, masyarakat harus segera mencari pertolongan profesional. Hal ini akan membantu orang tersebut mengetahui kondisi apa yang sebenarnya ia alami. Bicarakan Kesehatan Mental Dianggap Tabu, Penyebab Gangguan Jiwa Sering Dikaitkan dengan Mistis

Selain itu, menurut Saskhya, mengunjungi ahli profesional juga akan mengurangi dampak negatif lainnya seperti merugikan diri sendiri dan lain sebagainya.

“Ketika Anda memiliki masalah mental, terkadang Anda memiliki pemikiran untuk menyakiti diri sendiri atau masalah lainnya. Jadi menurut saya sebaiknya Anda segera pergi ke profesional untuk mendapatkan pertolongan dan menyelesaikan masalah tersebut,” jelas Saskja.